Ketika aku terbangun dari ketidaktahuanku, kutengadahkan kepalaku, sinar buram keemasan membalas dan membuat silau kedua mata ini. Aku bangun dari ketidakberdayaanku, menelusuri jalan-jalan yang biasa kulalui, menjumpai segala jenis permasalahan yang tak kunjung berubah. Aku bosan. Melangkah, berlari,dan terkadang sejenak berhenti. Menyeka keringat di tubuh yang kurus ini. Terdiam aku memandang seanteraku, tak ku dapatkan kepuasan dan pengobat akan rasa ini, semua seolah hanya seperti siklus hujan saja, datang, menggenang, dan berlalu tanpa makna.
Ketika aku mulai memasuki dunianya, rasa dingin ini membekukanku, seolah berada di dalam lemari es saja. Namun baju-baju zirah yang tipis dan semangat yang menggelora mampu menaklukan rasa menggigil ini, terasa hangat malah. Aku menyentuh batas luar dunianya dan duniaku, terasa beda, sangat terasa, bahkan aku tak akan bisa bernafas dengan bebas di dunianya. Dengan menggantungkan diri pada penyelamat hidupku, aku mulai memasuki dunianya, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, berharap tak ada aral rintang menghadang.
Ketika aku berada di luar batas terluar dunianya, aku masih dapat menyaksikan duniaku dengan jelas, namun dalam hitungan waktu, aku tak pernah menatap kembali dunia lamaku, aku semakin memasuki dunianya. Aku semakin masuk, untuk sementara tidak ada masalah yang menghambatku. Dengan gerakan lambat aku mulai mengepakkan dan menggerakkan tanganku seperti burung saat terbang tinggi di awan, kaki-kaki kecilku menolong beban tangan yang tak kuat melawan derasnya arus.
Ketika aku memandangi sekelilingku, kulihat penghuni dunia yang baru kukenal ini. Mereka menyambutku dengan kehangatan selayaknya seorang teman lama yang datang berkunjung, tidak ada rasa curiga sedikitpun di wajah tulus mereka, wajah yang penuh kehangatan itu menatapku dan seolah-olah berkata “nikmatilah dunia kami sepuas Anda”. Aura yang mempesona aku dapatkan saat memandang mereka, seakan membuktikan kebesaran Tuhan, aku bersyukur akan keramahan, kesukarelaan dan ketulusan mereka saat menyambut ku di dunianya.
Ketika aku mulai merasa terbiasa dengan dunia baru ini, aku memegang bangunan yang ada di tempat itu, bangunan megah yang menyelamatkan keluarga mereka dari dinginnya malam dan ancaman-ancaman dari luar dan dalam. Bangunan itu sangatlah indah, dengan kamar-kamar kecil yang tak berpintu dan mempunyai lorong-lorong rumit yang mengesankan, membingungkan dan menjaga keindahan orisionil bangunan itu. Anak-anak berlarian dengan riang gembira dari satu kamar ke kamar lain, dari lorong satu ke lorong lain, bahkan dari bangunan satu ke bangunan yang lain. Seakan tenaga mereka hanya untuk hari ini, seakan tiada hari esok. Aku tersenyum melihat tingkah lugu dan tanpa berdosa anak-anak itu.
Ketika aku mulai bergerak kembali dan melupakan hingar bingar itu, aku menatap kegelapan di depanku, kegelapan yang amat gelap, kegelapan yang sangat berbeda dengan kehangatan tadi. Aku semakin menuju ke dasar kegelapan pekat itu, kegelapan yang tak dapat dihapus dengan cahaya seterang apapun. Entah kenapa aku merasa ini malam hari atau kadang aku merasa aku sedang memejamkan mata, namun bukan itu, aku berada dalam tempat paling gelap, paling suram dan paling dingin yang pernah kurasakan. Baju zirah tipis dan sepatu aneh yang kugunakan tak sanggup menahan rasa dingin di tubuhku. Kemudian aku merasakan ketakutanku, saat ini aku akan menukar apapun dengan situasi tidak enak ini, bahkan juga jiwaku. Sekelebat sinar tak jelas melewati, aku tak sempat melihat apa itu, aku merasa mataku mulai rusak oleh kegelapan ini, atau aku hanya mengalami kecapaian yang sangat sehingga pandanganku tak jelas?, entahlah. Namun jelas dalam hatiku terpikir, betapa sulit mereka yang hidup dalam kegelapan ini, jauh dari hingar bingar keagungan kota, tersisihkan, dan selalu dicurigai akan berbuat jahat. Sama dengan yang terjadi pada duniaku, mereka bukanlah penguasa dan penjilat-penjilat itu yang menghancurkan duniaku dengan kepentingan kepentingannya, dengan keinginan maju mereka. Mereka hanyalah korban dari ketidakadilan yang membuat mereka seakan-akan menjadi terdakwa oleh keobyektifitasan yang dibuat-buat. Bahkan aku merasa tak mampu lagi bernapas di duniaku yang penuh asap berwarna hitam.
Ketika aku mulai tak sanggup menahan keletihanku yang amat sangat, ketika aku merasa meninggalkan duniaku berabad-abad lamanya, aku mulai mencari pintu yang menghubungkan duniaku dan dunia mereka. Aku mulai menjauh dari kegelapan itu, mulai menjauh dari bangunan megah itu. Saat jarak semakin menjauh, terlihat oleh kedua mataku kekerasan dunia ini, penguasa mulai memakan rakyat-rakyat yang tak berdosa, aku menyunggingkan senyum atau bisa di sebut seringai, dalam hati aku berkata “eh, ternyata sama saja “.
Ketika aku berjalan di daratan berpasir putih, ketika pikiranku berkecamuk akan apa yang aku alami di dunianya, ketika aku ke duniaku kembali dan bersiap menjalani hari seperti yang sudah biasa. Aku berpikir akan jadi apa aku, dalm pikiranku aku bukanlah penguasa-penguasa itu, aku bukanlah rakyat yang ditindas itu, aku juga bukanlah kaum-kaum yang dikucilkan dan dipersalahkan, aku hanya merasakan kebebasanku, kebebasan seperti ikan-ikan di lautan lepas tadi.
