Menyelam

•Agustus 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ketika aku terbangun dari ketidaktahuanku, kutengadahkan kepalaku, sinar buram keemasan membalas dan membuat silau kedua mata ini. Aku bangun dari ketidakberdayaanku, menelusuri jalan-jalan yang biasa kulalui, menjumpai segala jenis permasalahan yang tak kunjung berubah. Aku bosan. Melangkah, berlari,dan terkadang sejenak berhenti. Menyeka keringat di tubuh yang kurus ini. Terdiam aku memandang seanteraku, tak ku dapatkan kepuasan dan pengobat akan rasa ini, semua seolah hanya seperti siklus hujan saja, datang, menggenang, dan berlalu tanpa makna.

Ketika aku mulai memasuki dunianya, rasa dingin ini membekukanku, seolah berada di dalam lemari es saja. Namun baju-baju zirah yang tipis dan semangat yang menggelora mampu menaklukan rasa menggigil ini, terasa hangat malah. Aku menyentuh batas luar dunianya dan duniaku, terasa beda, sangat terasa, bahkan aku tak akan bisa bernafas dengan bebas di dunianya. Dengan menggantungkan diri pada penyelamat hidupku, aku mulai memasuki dunianya, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, berharap tak ada aral rintang menghadang.

Ketika aku berada di luar batas terluar dunianya, aku masih dapat menyaksikan duniaku dengan jelas, namun dalam hitungan waktu, aku tak pernah menatap kembali dunia lamaku, aku semakin memasuki dunianya. Aku semakin masuk, untuk sementara tidak ada masalah yang menghambatku. Dengan gerakan lambat aku mulai mengepakkan dan menggerakkan tanganku seperti burung saat terbang tinggi di awan, kaki-kaki kecilku menolong beban tangan yang tak kuat melawan derasnya arus.

Ketika aku memandangi sekelilingku, kulihat penghuni dunia yang baru kukenal ini. Mereka menyambutku dengan kehangatan selayaknya seorang teman lama yang datang berkunjung, tidak ada rasa curiga sedikitpun di wajah tulus mereka, wajah yang penuh kehangatan itu menatapku dan seolah-olah berkata “nikmatilah dunia kami sepuas Anda”. Aura yang mempesona aku dapatkan saat memandang mereka, seakan membuktikan kebesaran Tuhan, aku bersyukur akan keramahan, kesukarelaan dan ketulusan mereka saat menyambut ku di dunianya.

Ketika aku mulai merasa terbiasa dengan dunia baru ini, aku memegang bangunan yang ada di tempat itu, bangunan megah yang menyelamatkan keluarga mereka dari dinginnya malam dan ancaman-ancaman dari luar dan dalam. Bangunan itu sangatlah indah, dengan kamar-kamar kecil yang tak berpintu dan mempunyai lorong-lorong rumit yang mengesankan, membingungkan dan menjaga keindahan orisionil bangunan itu. Anak-anak berlarian dengan riang gembira dari satu kamar ke kamar lain, dari lorong satu ke lorong lain, bahkan dari bangunan satu ke bangunan yang lain. Seakan tenaga mereka hanya untuk hari ini, seakan tiada hari esok. Aku tersenyum melihat tingkah lugu dan tanpa berdosa anak-anak itu.

Ketika aku mulai bergerak kembali dan melupakan hingar bingar itu, aku menatap kegelapan di depanku, kegelapan yang amat gelap, kegelapan yang sangat berbeda dengan kehangatan tadi. Aku semakin menuju ke dasar kegelapan pekat itu, kegelapan yang tak dapat dihapus dengan cahaya seterang apapun. Entah kenapa aku merasa ini malam hari atau kadang aku merasa aku sedang memejamkan mata, namun bukan itu, aku berada dalam tempat paling gelap, paling suram dan paling dingin yang pernah kurasakan. Baju zirah tipis dan sepatu aneh yang kugunakan tak sanggup menahan rasa dingin di tubuhku. Kemudian aku merasakan ketakutanku, saat ini aku akan menukar apapun dengan situasi tidak enak ini, bahkan juga jiwaku. Sekelebat sinar tak jelas melewati, aku tak sempat melihat apa itu, aku merasa mataku mulai rusak oleh kegelapan ini, atau aku hanya mengalami kecapaian yang sangat sehingga pandanganku tak jelas?, entahlah. Namun jelas dalam hatiku terpikir, betapa sulit mereka yang hidup dalam kegelapan ini, jauh dari hingar bingar keagungan kota, tersisihkan, dan selalu dicurigai akan berbuat jahat. Sama dengan yang terjadi pada duniaku, mereka bukanlah penguasa dan penjilat-penjilat itu yang menghancurkan duniaku dengan kepentingan kepentingannya, dengan keinginan maju mereka. Mereka hanyalah korban dari ketidakadilan yang membuat mereka seakan-akan menjadi terdakwa oleh keobyektifitasan yang dibuat-buat. Bahkan aku merasa tak mampu lagi bernapas di duniaku yang penuh asap berwarna hitam.

Ketika aku mulai tak sanggup menahan keletihanku yang amat sangat, ketika aku merasa meninggalkan duniaku berabad-abad lamanya, aku mulai mencari pintu yang menghubungkan duniaku dan dunia mereka. Aku mulai menjauh dari kegelapan itu, mulai menjauh dari bangunan megah itu. Saat jarak semakin menjauh, terlihat oleh kedua mataku kekerasan dunia ini, penguasa mulai memakan rakyat-rakyat yang tak berdosa, aku menyunggingkan senyum atau bisa di sebut seringai, dalam hati aku berkata “eh, ternyata sama saja “.

Ketika aku berjalan di daratan berpasir putih, ketika pikiranku berkecamuk akan apa yang aku alami di dunianya, ketika aku ke duniaku kembali dan bersiap menjalani hari seperti yang sudah biasa. Aku berpikir akan jadi apa aku, dalm pikiranku aku bukanlah penguasa-penguasa itu, aku bukanlah rakyat yang ditindas itu, aku juga bukanlah kaum-kaum yang dikucilkan dan dipersalahkan, aku hanya merasakan kebebasanku, kebebasan seperti ikan-ikan di lautan lepas tadi.

DPR bangsat

•April 27, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Lembaga pemerintahan yang kita sebut sebgai wakil rakyat ini ternyata menyimpan beberapa kebobrokan,kebangsatan,kepalsuan. Wakil rakyat adalah seseorang yang dengan pilihan rakyat duduk di meja DPR dan harus memberikan suaranya untuk kepentingan rakyat, tujuan sepele seperti inipun mereka tidak tahu.

Dalam kurun waktu selama ini tak ada hasil positif yang diperbuat oleh bajingan-bajingan rakyat itu, mereka cuma mengambil banyak keuntungan-keuntungan pribadi saja,dengan asas “mumpung njabat”.

Kekecewaan saya terhadap DPR sudah terjadi sejak lama,terutama saat melihat bangsat-bangsat itu bertarung di persidangan yang pernah disiarkan salah satu stasiun televisi swasta, dan hal itu mencermin kegoblokan mereka, opo maneh sing di belo partaine duduk rakyat……..jancooooook.

Dan baru-baru ini kekecewaan saya timbul kembali kembali saat melihat adanya korupsi yang dilakukan Al-Amin (kabotan jeneng cuk….ganti ae Al-Kafirun),sungguh sangat mengecewakan (kurang akeh ta gajine…),dan yang lebih mengecewakan lagi KPK kenapa baru nemu siji (akeh goblok sing korupsi nang kono).

Lebih gila lagi setelah kemarin saya baca di media masa, bahwa anggota DPR lainnya menolak ruang kerja Al-Amin digeledah. Menurut mereka,DPR adalah lembaga terhormat negara tidak pantas diperlakukan begitu,apalagi ada dokumen rahasia negara di sana.

Pertanyaannya bukankah tidak ada satupun di Indonesia yang kebal hukum???

Sebenarnya masih banyak kebusukan anggota dewan tersebut, masih ingatkah dengan Maria Eva???

Apa yang membuat wakil rakyat kita jadi begitu brengsek????

pendidikankah???

mental???

bawaan sejak kecil???

didikan orang tua???

atau didikan partainya???

*Entahlah saudaraku….aku bukan Tuhan.

Lelaki Tua dan Gerobak Esnya

•April 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

entah apa yang kau pikirkan…

entah kau tak kenal lelah atau gimana

setiap ku bertemu,

semangat di wajahmu tak sesehat fisikmu

dengan tubuh terbungkuk dan gerakan yang sangat lambat,….

kau terus melalui jalan padat

rasa lelah tak kau risaukan

entah……

orang hanya bisa memandang

ada yang hina dan juga iba……..

namun semua……

tetap acuh

begitupun aku……

maafkan diriku……

wahai,

lelaki tua dengan gerobak esnya

Aku

•April 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aku merasakan embusan angin yang mendinginkan tubuhku

Aku merasa malam semakin gelap

dengan sedikit perasaan mewarnai

Aku adalah hanya “aku”

Dinosaurus

•April 4, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

hewan purbakala yang katanya para ilmuwan hewan ganas ini pernah menghuni bumi berjuta-juta taun lalu, terus diceritakan bahwa mereka (kemungkinan besar) musnah karena ada meteor yang menabrak bumi (abisnya klo nyetir ngebut seee,makane nabrak).

Nah yang jadi pertanyaan saya dan hal ini sangat mengganjal di hati, apakah sampai saat ini masih ada dinosaurus yang bertahan hidup???

Sekarang kita lihat kemungkinannya…………..

klo misalnya msh ada yang tersisa maka kemungkinannya adalah

1 masih ada, namun mereka mungkin tinggal ditempat yg sulit dijamah manusia, kaya pulau kosong misalnya. Tapi kemungkinan teori ini sangat tipis kebenarannya,soale klo mereka ada di tempat terpencil, maka supali makanan untul mereka akan berkurang,dan pada akirnya tetap aja mereka bakal mati

2 masih ada,mereka sudah g lagi berbentuk dinosaurus, mereka berevolusi.Dan kemungkinannya mereka berevolusi menjadi emnjadi bangsa unggas.Klo g percaya liat aja ayam legi jalan dan bayangin jalannya raptor,pasti mirip

3 mereka mati, tapi hal ini juga blm mutlak.

Wah tebakan ku cm segini doang,klo ada yg tau teori laen ato bahkan pernah ketemu dinosaurus ksh tau aku yo, soale aku pengen makan sate dinosaurus,ketok ane enak……….hwkwkwkwkwk

NOVEL

•Maret 30, 2008 • 1 Komentar

Pergi ke Desa

 

 

Dino memandangi jalan melalui jendela bis, dari tadi hanya hal itu saja yang dilakukan olehnya. Terlihat dalam pandangan pemandangan di luar jendela berubah dengan cepatnya, sawah berganti dengan jalan, jalan berganti dengan rumah, rumah berganti dengan sungai dan seterusnya. Tidak ada yang dipikirkannya saat ini, ia hanya melamun, teringat saat ia pertama kali memutuskan pergi berangkat ke rumah neneknya. Saat itu ia bahkan merajuk agar ibu tak menyuruhnya pergi namun ibu tetap menyuruhnya pergi. Akhirnya dengan sedikit ngambek pergilah ia.

Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, sudah sekitar satu jam Dino duduk di bus jurusan Surabaya-Kediri itu. Orang-orang di dalam bis masih sama berjubelnya dengan satu jam lalu. Orang yang berdiri tak terhitung jumlahnya, sedang yang dudukpun sama banyaknya. Terlihat bahwa keringat mulai membasahi baju dan tubuh mereka, udara siang itu memang begitu panas. Sedangkan di bagian depan kenek bis tetap menaikan penumpang dan berteriak-teriak untuk mengundang penumpang baru.

Sekitar setengah jam kemudian, keadaan di dalam bis sudah mulai sepi. Sekarang orang-orang yang berdiri tinggal sedikit saja dan yang duduk pun banyak yang tertidur lelap. Saat itu masuklah beberapa penjual makanan dan minuman ke dalam bis.

“Kacang…kacang, seribu satu…seribu satu”, teriak penjual kacang.

“Es sinom seger, dingin…dingin”,teriak penjual es.

Banyak pedagang-pedagang lain naik ke atas bis dan menjajakan dagangannya. Dino melihat mereka dengan sedikit rasa bosan menghiasi hatinya, dalam pikirannya kenapa sih mereka harus berjualan di sini, bikin sumpek suasana aja.

“Majalahnya berapa mas?”, seorang ibu muda bertanya pada penjual.

“Dua puluh ribu aja bu”, jawab si penjual.

“Aduh mahal amat sih Mas”, ibu itu mengeluh.

“Yah ibu, ini untung saya cuma dikit aja, cuma untuk cari makan”, si penjual menjelaskan dengan wajah memelas. Tampak ia mengharapkan si ibu membeli dagangannya.

Tanpa diketahui ibu muda dan si penjual, Dino mengamati mereka, ia mencuri dengar dan sempat melihat sekilas raut kekecewaan di wajah si penjual saat ibu muda itu tidak jadi membeli majalahnya. Ada sedikit rasa iba di hati kecil Dino, terbersit dalam pikirannya betapa susahnya si penjual majalah itu menjual satu majalah saja. Begitu keras para penjual itu berusaha, naik dari satu bis ke bis yang lain, berlari-lari di jalan raya yang panas oleh teriknya matahari tidak memperdulikan bahaya yang akan mereka hadapi.

Tanpa sadar Dino melamun, lamunannya membawanya pergi ke beberapa menit yang lalu. Saat itu perjalanan di bis baru mulai sekitar 30 menit, penumpang belum terlalu banyak sehingga masih mudah untuk mencari tempat yang enak. Dan ketika bis berhenti untuk menaik turunkan penumpang, naiklah seorang wanita berumur sekitar 30 tahun sambil membawa kotak besar yang berupa gabungan tape recorder dan salonnya juga ikut serta mik yang digunakan untuk mengamen. Setelah melakukan salam kepada penumpang, si pengamen segeralah menyanyi dengan lantunan lagu dangdut dari tape recorder sambil menyanyi ia juga ikut berjuget layaknya Inul Daratista. Dino yang pada dasarnya tidak suka lagu dangdut apalaggi dengan goyangan ala Inul langsung merasa jijik saat melihat pemandangan tersebut. Dalam pikirannya kenapa si wanita itu dengan kurang kerjaannya berjoget seperti itu.

Namun setelah dia memikirkan apa yang dilakukan penjual majalah itu, ia sadar bahwa wanita tersebut hanya menginginkan sepuluk nasi tidak lebih. Dan apalagi yang ia bias lakukan selain mengamen dan berjoget seperti itu, tidak ada. Itu satu-satunya jalan untuk mempertahankan hidup, mempertahankan hidup dari kerasnya persaingan hidup, persaingan yang kadang mengharuskan kita untuk berusaha tanpa mengenal lelah, berusaha tanpa mengenal rasa gengsi, dan berusaha walau apapun konsekuensinya.

Hujan mulai rintik-rintik membasahi bumi, bis yang dinaiki Dino kali ini terjebak macet dan merayap merambat. Air hujan pelan-pelan membasahi kaca jendela bis, para penumpang sudah banyak yang berdiri untuk menutup kaca yang terbuka.

Dino terlihat sudah sadar dari lamunannya, saat ini ia sedang melihat ke luar jendela, terlihat olehnya petani-petani sedang menanam padi di sawah tanpa mempedulikan derasnya hujan yang membasahi bumi. Sekali lagi ia merasakan gejolak aneh ketika melihat kerja keras para petani itu, Rasanya dia merasa bahwa tak mungkin lagi ia hidup di dunia ini, ia merasa begitu malasnya dia selama ini, begitu manjanya ia, selama ini ia hanya bisa mengandalkan orang tuanya, ia hanya bisa mengandalkan uang saku orangtuanya, ia hanya bisa menghabiskan uang itu untuk main game on line kesukaannya, ia begitu suka berfoya-foya, tanpa ia tahu jika orang lain begitu membutuhkan sehelai uang untuk makan, sehelai uang untuk mempertahankan hidup. Dengan segala fasilitas dari orangtuanya ia begitu merasa raja, kadang ia rela menggunakan waktu berjam-jam hanya untuk bermain dan bersenang-senang dengan teman-temannya, kadang ia rela menghabiskan berrupiah-rupiah uang untuk mentraktir pacarnya, tanpa ia ketahui bahwa di belahan lain dunia masih banyak orang yang berusaha untuk mencari sesuap nasi. Dia merasa daya juangnya sangat sangat sangatlah rendah.

Rasa penyesalan menghinggapi batinnya, namun dengan segenap semangat yang ia miliki ia mencoba untuk mengubah kebiasaannya. Dia akan mengurangi persentasi bermainnya, dia tidak akan lagi membuang-buang uang sembarangan, dan yang paling penting dia akan berusaha untuk cari uang sendiri. Dengan penuh semangat ia berjanji akan memenuhi janji kepada dirinya tersebut.

Jam menunjukan pukul 3 sore, dan Dino turun dari bis tersebut.

 

***

 

Me

•Maret 30, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Fucking me,

aku g seganteng tom cruise, g sealim fahri, g selucu aming, g sejenius einstein, g se”gapleki” wakil rakyat, g setega satpol pp, g sebrengsek org-org brngsek, aku………..yo aku…………hanyalah seorang mahasiswa bodoh yg coba membuat blog secara amatiran.MAKA, JANGAN BACA BLOGKU.

Hello world!

•Maret 30, 2008 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.