NOVEL

Pergi ke Desa

 

 

Dino memandangi jalan melalui jendela bis, dari tadi hanya hal itu saja yang dilakukan olehnya. Terlihat dalam pandangan pemandangan di luar jendela berubah dengan cepatnya, sawah berganti dengan jalan, jalan berganti dengan rumah, rumah berganti dengan sungai dan seterusnya. Tidak ada yang dipikirkannya saat ini, ia hanya melamun, teringat saat ia pertama kali memutuskan pergi berangkat ke rumah neneknya. Saat itu ia bahkan merajuk agar ibu tak menyuruhnya pergi namun ibu tetap menyuruhnya pergi. Akhirnya dengan sedikit ngambek pergilah ia.

Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, sudah sekitar satu jam Dino duduk di bus jurusan Surabaya-Kediri itu. Orang-orang di dalam bis masih sama berjubelnya dengan satu jam lalu. Orang yang berdiri tak terhitung jumlahnya, sedang yang dudukpun sama banyaknya. Terlihat bahwa keringat mulai membasahi baju dan tubuh mereka, udara siang itu memang begitu panas. Sedangkan di bagian depan kenek bis tetap menaikan penumpang dan berteriak-teriak untuk mengundang penumpang baru.

Sekitar setengah jam kemudian, keadaan di dalam bis sudah mulai sepi. Sekarang orang-orang yang berdiri tinggal sedikit saja dan yang duduk pun banyak yang tertidur lelap. Saat itu masuklah beberapa penjual makanan dan minuman ke dalam bis.

“Kacang…kacang, seribu satu…seribu satu”, teriak penjual kacang.

“Es sinom seger, dingin…dingin”,teriak penjual es.

Banyak pedagang-pedagang lain naik ke atas bis dan menjajakan dagangannya. Dino melihat mereka dengan sedikit rasa bosan menghiasi hatinya, dalam pikirannya kenapa sih mereka harus berjualan di sini, bikin sumpek suasana aja.

“Majalahnya berapa mas?”, seorang ibu muda bertanya pada penjual.

“Dua puluh ribu aja bu”, jawab si penjual.

“Aduh mahal amat sih Mas”, ibu itu mengeluh.

“Yah ibu, ini untung saya cuma dikit aja, cuma untuk cari makan”, si penjual menjelaskan dengan wajah memelas. Tampak ia mengharapkan si ibu membeli dagangannya.

Tanpa diketahui ibu muda dan si penjual, Dino mengamati mereka, ia mencuri dengar dan sempat melihat sekilas raut kekecewaan di wajah si penjual saat ibu muda itu tidak jadi membeli majalahnya. Ada sedikit rasa iba di hati kecil Dino, terbersit dalam pikirannya betapa susahnya si penjual majalah itu menjual satu majalah saja. Begitu keras para penjual itu berusaha, naik dari satu bis ke bis yang lain, berlari-lari di jalan raya yang panas oleh teriknya matahari tidak memperdulikan bahaya yang akan mereka hadapi.

Tanpa sadar Dino melamun, lamunannya membawanya pergi ke beberapa menit yang lalu. Saat itu perjalanan di bis baru mulai sekitar 30 menit, penumpang belum terlalu banyak sehingga masih mudah untuk mencari tempat yang enak. Dan ketika bis berhenti untuk menaik turunkan penumpang, naiklah seorang wanita berumur sekitar 30 tahun sambil membawa kotak besar yang berupa gabungan tape recorder dan salonnya juga ikut serta mik yang digunakan untuk mengamen. Setelah melakukan salam kepada penumpang, si pengamen segeralah menyanyi dengan lantunan lagu dangdut dari tape recorder sambil menyanyi ia juga ikut berjuget layaknya Inul Daratista. Dino yang pada dasarnya tidak suka lagu dangdut apalaggi dengan goyangan ala Inul langsung merasa jijik saat melihat pemandangan tersebut. Dalam pikirannya kenapa si wanita itu dengan kurang kerjaannya berjoget seperti itu.

Namun setelah dia memikirkan apa yang dilakukan penjual majalah itu, ia sadar bahwa wanita tersebut hanya menginginkan sepuluk nasi tidak lebih. Dan apalagi yang ia bias lakukan selain mengamen dan berjoget seperti itu, tidak ada. Itu satu-satunya jalan untuk mempertahankan hidup, mempertahankan hidup dari kerasnya persaingan hidup, persaingan yang kadang mengharuskan kita untuk berusaha tanpa mengenal lelah, berusaha tanpa mengenal rasa gengsi, dan berusaha walau apapun konsekuensinya.

Hujan mulai rintik-rintik membasahi bumi, bis yang dinaiki Dino kali ini terjebak macet dan merayap merambat. Air hujan pelan-pelan membasahi kaca jendela bis, para penumpang sudah banyak yang berdiri untuk menutup kaca yang terbuka.

Dino terlihat sudah sadar dari lamunannya, saat ini ia sedang melihat ke luar jendela, terlihat olehnya petani-petani sedang menanam padi di sawah tanpa mempedulikan derasnya hujan yang membasahi bumi. Sekali lagi ia merasakan gejolak aneh ketika melihat kerja keras para petani itu, Rasanya dia merasa bahwa tak mungkin lagi ia hidup di dunia ini, ia merasa begitu malasnya dia selama ini, begitu manjanya ia, selama ini ia hanya bisa mengandalkan orang tuanya, ia hanya bisa mengandalkan uang saku orangtuanya, ia hanya bisa menghabiskan uang itu untuk main game on line kesukaannya, ia begitu suka berfoya-foya, tanpa ia tahu jika orang lain begitu membutuhkan sehelai uang untuk makan, sehelai uang untuk mempertahankan hidup. Dengan segala fasilitas dari orangtuanya ia begitu merasa raja, kadang ia rela menggunakan waktu berjam-jam hanya untuk bermain dan bersenang-senang dengan teman-temannya, kadang ia rela menghabiskan berrupiah-rupiah uang untuk mentraktir pacarnya, tanpa ia ketahui bahwa di belahan lain dunia masih banyak orang yang berusaha untuk mencari sesuap nasi. Dia merasa daya juangnya sangat sangat sangatlah rendah.

Rasa penyesalan menghinggapi batinnya, namun dengan segenap semangat yang ia miliki ia mencoba untuk mengubah kebiasaannya. Dia akan mengurangi persentasi bermainnya, dia tidak akan lagi membuang-buang uang sembarangan, dan yang paling penting dia akan berusaha untuk cari uang sendiri. Dengan penuh semangat ia berjanji akan memenuhi janji kepada dirinya tersebut.

Jam menunjukan pukul 3 sore, dan Dino turun dari bis tersebut.

 

***

 

~ oleh pamintoko pada Maret 30, 2008.

Satu Tanggapan to “NOVEL”

  1. cieeeeh ….sok imoet………..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.